Menenun Asa di Bawah Energi Cahaya

Bagaimana energi surya menyalakan kembali malam—dan ekonomi—para perempuan penenun Desa Patawang, Sumba Timur.

Film dokumenter “Menenun Asa” — dampak PLTS bagi perempuan penenun ikat di Desa Patawang. Dok. KOPPESDA - Program REVIVE.

Dulu, begitu matahari tenggelam di balik bukit karang Desa Patawang, waktu seakan ikut berhenti. Di kolong rumah, suara alat tenun yang bertalu sepanjang siang perlahan senyap. Satu-satunya cahaya datang dari pelita minyak tanah—dan bila minyak habis, gelap pun menutup hari. “Dulu kita masih kerja pakai pelita. Kalau tidak ada minyak tanah, kita tidak bisa kasih minyak pelita, sudah,” kenang Kariri Hara, seorang penenun.

Dalam keterbatasan itu, menenun hanyalah pekerjaan siang. Memintal benang dilakukan dengan kindi—alat pintal tangan—dan satu gulung saja bisa memakan dua hari. “Kalau tenun, paling satu minggu satu lembar selendang saja, karena kita hanya tenun siang,” ujar Kariri. “Siang pun masih banyak pekerjaan lain, dan kita belum ada lampu.” Malam hanya menyisakan lelah.

Semua berubah pada 2023. “Di Desa Patawang, sebelum tahun 2010, lebih dari 60 kepala keluarga tidak merasakan listrik sejak Indonesia merdeka,” kata Imanuel Soleman, S.H., Kepala Desa Patawang. “Dan bersyukur, tahun 2023, dengan hadirnya PLTS untuk 60 penerima manfaat, ini sungguh sangat terasa manfaatnya.” Panel-panel surya mulai menyerap cahaya dan mengubahnya menjadi arus.

Kini malam bukan lagi batas, melainkan waktu untuk berkarya. “Kalau pulang dari kebun, kita bisa kerja malam—bisa bertenun, bisa pintal benang,” kata Kariri. “Bapak juga bisa cetak batako; anak-anak bisa belajar; kita juga bisa cas HP. Dulu kami masih berjalan kaki, turun ke bawah yang ada listrik.”

Kariri Hara bersama suaminya merakit dinamo pemintal benang — alat yang memangkas waktu memintal dari berhari-hari menjadi 40 menit. Foto: Allwyn Wawyn.

Perubahan terbesar datang dari sebuah dinamo. Digerakkan listrik PLTS, alat pemintal itu memangkas pekerjaan yang dulu berhari-hari. “Kalau satu lembar selendang, paling lama 40 menit kalau pakai dinamo. Kalau kindi, empat hari dulu,” kata Kariri, sambil menggulung tiga utas benang menjadi satu untuk membentuk motif kain. Efisiensi itu melipatgandakan hasil. Dalam seminggu, dua lembar selendang—masing-masing Rp250.000—siap dijual; selembar kain besar yang dulu butuh sebulan kini rampung dalam dua minggu, dan sehelai sarung bernilai sekitar Rp1.000.000. Uangnya untuk beli makan dan minum, membeli semen untuk cetak batako, hingga membayar uang sekolah anak.

“Saya yang tenun ini—saya merasa berdaya sebagai perempuan, karena saya ada tabungan.”
Kariri Hara, Penenun

Cahaya juga mengatur ulang ritme rumah tangga. “Saya bersyukur karena lampu sudah ada; saya jadi ada pekerjaan sedikit di malam hari,” kata Anus Djara, penenun laki-laki di desa itu. Istrinya, Yaku Danga, menambahkan bagaimana mereka berbagi peran: “Kalau saya pergi kerja di PT, hanya Bapak yang menenun. Kalau saya tidak capek, malam saya bantu Bapak lagi menenun.” Di banyak rumah, anak-anak pun tak lagi menyipitkan mata di bawah asap pelita.

Yaku Danga menenun membantu suaminya sehabis kerja di PT. Foto: Allwyn Wawyn.
Anus Djara dan Yaku Danga menenun bersama di bawah terang PLTS. Foto: Allwyn Wawyn.

Menurut Kepala Desa, geliat itu terukur. “Ada peningkatan pendapatan ekonomi rumah tangga… dari sisi sosial budaya, aktivitas yang tidak bisa dilakukan di malam hari kini bisa dilakukan dengan baik,” ujar Imanuel Soleman. Yang tidak kalah penting, katanya, adalah naiknya prestasi anak-anak yang dulu tak bisa belajar selepas sore—dan meningkatnya aktivitas tenun ikat hingga bermunculan galeri-galeri baru di desa.

Namun merawat cahaya tak pernah gratis. Sejak insentif dari dana desa dihentikan, operator PLTS bekerja tanpa upah. “Kami tidak pernah dapat lagi insentif dari desa. Hanya kami kerja dengan ikhlas, karena memang betul-betul ini barang kami jaga,” kata Filmon Ngguli Hunga, operator yang juga seorang petani dan menjaga pembangkit di dua dusun. Iuran warga, tegasnya, bukan miliknya: “Ini bukan berarti barang ini untuk saya punya—tidak, untuk kita semua. Kalau ada kerusakan, uang itu yang kami pakai beli.”

Tantangan terbesarnya adalah pemeliharaan tanpa cadangan suku cadang maupun anggaran. “Persiapan cadangan anggaran untuk maintenance menjadi tantangan luar biasa, karena kami tidak punya cadangan peralatan,” kata Kepala Desa. Di titik itu, pendampingan Program REVIVE—bersama KOPPESDA dan Humanis—masuk menata SOP, memperkuat pengelolaan lewat BUM Desa, dan mengadvokasi soal iuran. Kapasitas 40 kWp itu masih jauh dari pemakaian penuh pada siang hari, dan ia membayangkan energinya kelak memutar ekonomi desa sepanjang hari. “PLTS ini tidak hanya 10 atau 15 tahun lalu macet,” katanya, “tetapi juga akan bermanfaat dengan luar biasa.”

Di balik rasa syukur, ada satu dahaga yang belum terjawab: air. “Kalau kita butuh air, susah sekali di sini. Airnya jauh sampai di bawah sana—turun gunung, lalu mendaki lagi,” tutur Kariri. Harapannya sederhana: energi yang sama suatu hari bisa menaikkan air untuk memasak, minum, dan mencuci. “Ini pergumulan kami sudah bertahun-tahun. Di sini kering dari pertama sampai sekarang—kering total,” kata Filmon, yang bahkan harus memikul air dari rumah atau selokan hanya untuk membersihkan shelter PLTS.

Matahari di Patawang telah menenun asa: ia menyalakan malam, memutar dinamo, dan menuliskan ulang takdir para perempuannya. Tantangan berikutnya adalah membuat cahaya yang sama mengalirkan air. Dan jika terang saja bisa mereka panen dari langit, bukan tak mungkin air kehidupan pun kelak mengalir di tanah karang ini.

Tentang Program REVIVE

Program REVIVE mendorong pemanfaatan energi surya (PLTS) dan dampaknya bagi penghidupan masyarakat desa di Sumba Timur, termasuk tata kelola BUM Desa dan ekonomi keluarga. Diselenggarakan oleh Yayasan KOPPESDA bekerja sama dengan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial.

Film “Menenun Asa” diproduksi oleh Yayasan KOPPESDA bersama Yayasan Humanis di bawah Program REVIVE (Renewable Village-based Ventures for Economic Empowerment).

Suka tulisan ini?